Sunday, 11 June 2017

Pengeluaran di Bulan Ramadan



Kenyataannya . . . .
Bulan Ramadan adalah dimana umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadaha puasa (shaum), dengan rangkaian kegiatan menahan makan dan minum selama satu hari penuh kemudian dibolehkan berbuka pada saat waktu Maghrib tiba. Dalam melaksanakan ibadah puasa, jadwal kita tentu menjadi berubah terutama dalam hal makan. Diawali makan sahur kemudian ketemu lagi waktu makan pas buka puasa, itupun mungkin tidak akan teralu banyak menu yang kita makan karena biasanya selepas berpuasa tubuh memerlukan waktu untuk dapat mengolah makanan yang masuk. Jadi engga bisa banyak-banyak dulu pada waktu berbuka, efeknya kalau sekali buka dihajar menu besar tubuh kita akan kelelahan mengolah makanan. Dan kita menjadi cepat mengantuk sehingga rangkaian ibadah lainnya yaitu shalat tarawih menjadi terlewatkan. Dengan dua jadwal makan sepertinya pengeluaran kita akan semakin hemat di bulan ramadan. Kalau sekali makan kita beli di warteg seharga 9 ribu rupiah (Nasi, telur bumbu, sayur) untuk porsi mahasiswa, dua kali makan cukup mengeluarkan anggaran 18 ribu rupiah. Tapi tunggu dulu!


Kenyataanya tidak begitu, kadang pada saat buka puasa menu yang biasa-biasa aja menjadi luar biasa. Pasalnya ada berapa acara buka bersama yang datang mengundang kita, mulai dari grup reuni, grup temen kerja sampai grup main game dan seterusnya. Sudah pasti penyelenggaraan acara bukber ini tidak bisa di warteg sebelah, karena kita pasti butuh tempat yang nyaman untuk berkumpul dan ada sesi ngobrol-ngobrolnya. Ambil saja untuk menu paket bukber dengan takjilnya dan minuman tambahan sebesar 50 ribu rupiah. Dalam dua minggu berjalan ini sudah berapa Bukber yang kita hadiri, dikalikan 50 ribu duh sepertinya pengeluaran jadi malah bertambah. Dan ibarat sudah jadi budaya, tempat-tempat makan selama bulan puasa memperoleh omset penjualan yang meningkat. Seolah-olah jadi semacam balas dendam setelah seharian tidak diisi makanan, tapi sepertinya bukan itu karena acara buka bersama masih ada sisi baiknya tinggal diatur saja dan disesuaikan dengan isi dompet kita.

Masih di bulan Ramadan, setiap menjelang akhir kita akan menyaksikan pasar-pasar ramai oleh pengunjung. Tidak seperti hari-hari diluar bulan ramadan, semua orang berbelanja berbagai macam kebutuhan untuk menyambut lebaran. Mulai dari membeli baju baru hingga membeli bahan makanan untuk masakan spesial lebaran beserta kue-kue. Kebetulan di negeri ini setiap lebaran ada yang namanya THR (Tunjangan Hari Raya) semacam pendapatan lebih diluar gaji pokok khusus ramadan. Nah jadilah setiap orang memiliki kemampuan belanja yang meningkat pula, yang sudah berkeluarga pasti membeli pakaian baru untuk anak-anaknya, yang belum berkeluarga akan membeli pakaian baru untuk dirinya. Anggap saja satu stel pakaian memerlukan biaya sebesar 300 ribu rupiah untuk orang dewasa, dan 150 ribu rupiah untuk anak-anak kita ambil rata saja untuk satu keluarga akan menghabiskan anggaran sebesar 1 juta rupiah untuk pakaian baru saja. Belum untuk kue dan biaya silaturahmi pada hari H Lebaran. Mengapa demikian?

Entah saya juga harus melihat dari sudut pandang sebelah mana, perlu penelitian mendalam akan hal ini. Menurut orang ekonomi bertambahnya pendapatan dibulan ramadan meningkatkan daya beli masyarakat, ditambah ada budaya yang berkembang bahwa memasuki Iedul Fitri itu segalanya menjadi baru. Salah satu ekspresinya adalah pakaian baru, tidak sedikit toko-toko membuat program diskon untuk menarik konsumen membeli sebanyak-banyaknya. Belum lagi toko-toko online yang tak kalah hebat menjajakan dagangannya. Dengan kemampuan membeli meningkat maka tingkat konsumerisme masyarakat pun ikut meningkat.

Diakhir tulisan ini saya cuma ingin menggenapi dengan sekalimat “kalau memang yang dibeli adalah yang benar-benar dibutuhkan belilah, kalau sekedar memenuhi keinginnan lebih baik ditunda dulu dan pastikan bukan sekedar keinginan”.  

No comments:

Post a Comment